RSS

Imam Nasa’i

22 Jul

A. Nama lengkap dan kelahiran

Nama lengkap Imam al-Nasa’i adalah Abu
Abd al-Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib
bin Ali bin Sinan bin Bahr al-khurasani al-
Qadi.

Lahir di daerah Nasa’ pada tahun
215 H.
Ada juga sementara ulama yang
mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun
214 H.

Beliau dinisbahkan kepada daerah
Nasa’ (al-Nasa’i), daerah yang menjadi
saksi bisu kelahiran seorang ahli hadis
kaliber dunia. Beliau berhasil menyusun
sebuah kitab monumental dalam kajian
hadis, yakni al-Mujtaba’ yang di
kemudian hari kondang dengan sebutan
Sunan al-Nasa’i.

B.Pengembaraan intelektual

Pada awalnya, beliau tumbuh dan
berkembang di daerah Nasa’. Beliau
berhasil menghafal al-Qur’an di Madrasah
yang ada di desa kelahirannya.

Beliau juga
banyak menyerap berbagai disiplin ilmu
keagamaan dari para ulama di daerahnya.

Saat remaja, seiring dengan peningkatan
kapasitas intelektualnya, beliaupun mulai
gemar melakukan lawatan ilmiah ke
berbagai penjuru dunia. Apalagi kalau
bukan untuk guna memburu ilmu-ilmu
keagamaan terutama disiplin hadis dan
ilmu Hadis.

Belum genap usia 15 tahun, beliau sudah
melakukan mengembar ke berbagai
wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Iraq,
Syam, Khurasan, dan lain sebagainya.

Sebenarnya, lawatan intelektual yang
demikian, bahkan dilakukan pada usia dini,
bukan merupakan hal yang aneh
dikalangan para Imam Hadis. Semua imam
hadis, terutama enam imam hadis, yang
biografinya banyak kita ketahui, sudah
gemar melakukan perlawatan ilmiah ke
berbagai wilayah Islam semenjak usia dini.

Dan itu merupakan ciri khas ulama-ulama
hadis, termasuk Imam al-Nasa’i.
Kemampuan intelektual Imam al Nasa’i
menjadi kian matang dan berisi dalam
masa pengembaraannya. Namun demikian,
awal proses pembelajarannya di daerah
Nasa’ tidak bisa dikesampingkan begitu
saja, karena justru di daerah inilah, beliau
mengalami proses pembentukaN intelektual, sementara masA pengembaraannya dinilai sebagai proses
pematangan dan perluasan pengetahuan.

C. Guru-guru Imam Nasa’i

Seperti para pendahulunya: Imam al-
Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud,
dan Imam al-Tirmidzi, Imam al-Nasa’i
juga tercatat mempunyai banyak pengajar
dan murid.

Para guru beliau yang nama harumnya
tercatat oleh pena sejarah antara lain;

1.Qutaibah bin Sa’id,
2.Ishaq bin Ibrahim,
3.Ishaq bin Rahawaih,
4.al-Harits bin Miskin,
5.Ali
bin Kasyram,
6.Imam Abu Dawud (penyusun
Sunan Abi Dawud),
7.serta Imam Abu Isa al- Tirmidzi (penyusun al-Jami’/Sunan al-
Tirmidzi).

D. Murid-murid Imam Nasa’i

Sementara murid-murid yang setia
mendengarkan fatwa-fatwa dan ceramah-
ceramah beliau, antara lain;

1.Abu al-Qasim
al-Thabarani (pengarang tiga buku kitab
Mu’jam),
2.Abu Ja’far al-Thahawi,
3.al-
Hasan bin al-Khadir al-Suyuti,
4.Muhammad
bin Muawiyah bin al Ahmar al-Andalusi,
5.Abu Nashr al-Dalaby, dan
6.Abu Bakrbin
Ahmad al-Sunni.

Nama yang disebut
terakhir, disamping sebagai murid juga
tercatat sebagai “penyambung lidah”
Imam al-Nasa’i dalam meriwayatkan
kitab Sunan al-Nasa’i.

Sudah mafhum dikalangan peminat kajian
hadis dan ilmu hadis, para imam hadis
merupakan sosok yang memiliki ketekunan
dan keuletan yang patut diteladani. Dalam
masa ketekunannya inilah, para imam
hadis kerap kali menghasilkan karya tulis
yang tak terhingga nilainya.

E. Karya Imam Nasa’i

Tidak ketinggalan pula Imam al-Nasa’i.
Karangan-karangan beliau yang sampai
kepada kita dan telah diabadikan oleh pena
sejarah antara lain;

1.al-Sunan al-Kubra,
2.al-
Sunan al-Sughra (kitab ini merupakan
bentuk perampingan dari kitab al-Sunan al-
Kubra),
3.al-Khashais, Fadhail al-Shahabah,
dan
4.al-Manasik.

Menurut sebuah
keterangan yang diberikan oleh Imam Ibn
al-Atsir al-Jazairi dalam kitabnya Jami al-
Ushul, kitab ini disusun berdasarkan
pandangan-pandangan fiqh mazhab
Syafi’i.

F.Komentar Ulama

Imam al-Nasa’i merupakan figur yang
cermat dan teliti dalam meneliti dan
menyeleksi para periwayat hadis. Beliau
juga telah menetapkan syarat-syarat
tertentu dalam proses penyeleksian hadis-
hadis yang diterimanya. Abu Ali al-
Naisapuri pernah mengatakan, “Orang
yang meriwayatkan hadis kepada kami
adalah seorang imam hadis yang telah
diakui oleh para ulama, ia bernama Abu
Abd al Rahman al-Nasa’i.”

Lebih jauh lagi Imam al-Naisapuri
mengatakan, “Syarat-syarat yang
ditetapkan al-Nasa’i dalam menilai para
periwayat hadis lebih ketat dan keras
ketimbang syarat-syarat yang digunakan
Muslim bin al-Hajjaj.
” Ini merupakan
komentar subyektif Imam al-Naisapuri
terhadap pribadi al-Nasa’i yang berbeda
dengan komentar ulama pada umumnya.

Ulama pada umumnya lebih
mengunggulkan keketatan penilaian Imam
Muslim bin al-Hajjaj ketimbang al-Nasa’i.
Bahkan komentar mayoritas ulama ini
pulalah yang memposisikan Imam Muslim
sebagai pakar hadis nomer dua, sesudah al-
Bukhari.

Namun demikian, bukan berarti mayoritas
ulama merendahkan kredibilitas Imam al-
Nasa’i. Imam al-Nasa’i tidak hanya ahli
dalam bidang hadis dan ilmu hadis, namun
juga mumpuni dalam bidang figh.

Al-
Daruquthni pernah mengatakan, beliau
adalah salah seorang Syaikh di Mesir yang
paling ahli dalam bidang figh pada
masanya dan paling mengetahui tentang
Hadis dan para rawi. Al-Hakim Abu
Abdullah berkata, “Pendapat-pendapat
Abu Abd al-Rahman mengenai fiqh yang
diambil dari hadis terlampau banyak untuk
dapat kita kemukakan seluruhnya.

Siapa
yang menelaah dan mengkaji kitab Sunan
al-Nasa’i, ia akan terpesona dgn
keindahan dan kebagusan kata-katanya.”

Tdk ditemukan riwayat yang jelas
tentang afiliansi pandangan fiqh beliau,
kecuali komentar singkat Imam Madzhab
Syafi’i. Pandangan Ibn al-Atsir ini dapat
dimengerti dan difahami, karena memang
Imam al-Nasa’i lama bermukim di Mesir,
bahkan merasa cocok tinggal di sana.

Beliau baru berhijrah dari Mesir ke Damsyik
setahun menjelang kewafatannya.
Karena Imam al-Nasa’i cukup lama
tinggal di Mesir, sementara Imam al-
Syafi’i juga lama menyebarkan
pandangan-pandangan fiqhnya di Mesir
(setelah kepindahannya dari Bagdad),
maka walaupun antara keduanya tidak
pernah bertemu, karena al-Nasa’i baru
lahir sebelas tahun setelah kewafatan
Imam al-Syafi’i, tidak menutup
kemungkinan banyak pandangan-
pandangan fiqh Madzhab Syafi’i yg
beliau serap melalui murid-murid Imam al-
Syafi’i yang tinggal di Mesir. Pandangan
fiqh Imam al-Syafi’i lebih tersebar di
Mesir ketimbang di Baghdad.

Hal ini lebih
membuka peluang bagi Imam al-Nasa’i
untuk bersinggungan dengan pandangan
fiqh Syafi’i. Dan ini akan menguatkan
dugaan Ibn al-Atsir tentang afiliasi mazhab
fiqh al-Nasa’i.

Pandangan Syafi’i di Mesir ini kemudian
dikenal dengan qaul jadid (pandangan
baru). Dan ini seandainya dugaan Ibn al-
Atsir benar mengindikasikan bahwa
pandangan fiqh Syafi’i dan al-Nasa’i
lebih didominasi pandangan baru (Qaul
Jadid, Mesir) ketimbang pandangan klasik
(Qaul Qadim, Baghdad).

Namun demikian, tdk menutup
kemungkinan bahwa Imam al-Nasa’i
merupakan sosok yang berpandangan
netral, tidak memihak salah satu
pandangan mazhab fiqh manapun,
termasuk pandangan Imam al-Syafi’i. Hal
ini seringkali terjadi pada imam-imam
hadis sebelum al-Nasa’i, yang hanya
berafiliasi pada mazhab hadis. Dan
independensi pandangan ini merupakan ciri
khas imam-imam hadis. Oleh karena itu,
untuk mengklaim pandangan Imam al-
Nasa’i telah terkontaminasi oleh
pandangan orang lain, kita perlu
menelusuri sumber sejarah yang konkrit,
bukannya hanya berdasarkan dugaan.

G. Wafat Imam Nasa’i

Setahun menjelang kemangkatannya,
beliau pindah dari Mesir ke Damsyik. Dan
tampaknya tidak ada konsensus ulama
tentang tempat meninggal beliau. Al-
Daruqutni mengatakan, beliau di Makkah
dan dikebumikan diantara Shafa dan
Marwah. Pendapat yang senada
dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah
dari Hamzah al-’Uqbi al-Mishri.
Sementara ulama yang lain, seperti Imam
al-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia
mengatakan, Imam al-Nasa’i meninggal
di Ramlah, suatu daerah di Palestina.

Pendapat ini didukung oleh Ibn Yunus, Abu
Ja’far al-Thahawi (murid al-Nasa’i) dan
Abu Bakar al-Naqatah. Menurut pandangan
terakhir ini, Imam al-Nasa’i meninggal
pada tahun 303 H dan dikebumikan di Bait
al-Maqdis, Palestina.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 22, 2011 in Sejarah Ulama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: