RSS

Imam Abu Dawud

24 Jul

A. Nama lengkap dan kelahiran

Imam Abu Dawud (817 / 202 H–
meninggal di Basrah; 888/ 16 Syawal 275
H; umur 70–71 tahun) adlh salah
seorang perawi hadits, yg
mengumpulkan sekitar 50.000 hadits lalu
memilih dan menuliskan 4.800 di
antaranya dlm kitab Sunan Abu Dawud.

Nama lengkapnya adlh Abu Dawud
Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani. Untuk
mengumpulkan hadits, beliau bepergian ke
Arab Saudi, Irak, Khurasan, Mesir, Suriah,
Nishapur, Marv, dan tempat-tempat lain,
menjadikannya salah seorang ulama yg
paling luas perjalanannya.

Bapak beliau yaitu Al Asy’ats bin Ishaq
adlh seorang perawi hadits yg
meriwayatkan hadits dari Hamad bin Zaid,
dan demikian jg saudaranya Muhammad
bin Al Asy`ats termasuk seorang yg
menekuni dan menuntut hadits dan ilmu-
ilmunya jg merupakan teman perjalanan
beliau dlm menuntut hadits dari para
ulama ahli hadits.
Abu Dawud sudah berkecimpung dlm
bidang hadits sejak berusia belasan tahun.

Hal ini diketahui mengingat pada tahun
221 H, dia sudah berada di Baghdad, dan di
sana beliau menemui kematian Imam
Muslim, sebagaimana yang beliau katakan:
“Aku menyaksikan jenazahnya dan
mensholatkannya”.

Walaupun
sebelumnya beliau telah pergi ke negeri-
negeri tetangga Sajistaan, seperti
khurasan, Baghlan, Harron, Roi dan
Naisabur.

Stlh beliau masuk kota Baghdad, beliau
diminta oleh Amir Abu Ahmad Al Muwaffaq
untuk tinggal dan menetap di Bashrah,dan
beliau menerimanya,akan tapi hal itu
tdk membuat beliau berhenti dlm
mencari hadits.

B. Guru

Kemudian mengunjungi berbagai negeri
untuk memetik langsung ilmu dari
sumbernya. Dia langsung berguru selama
bertahun-tahun. Di antara guru-gurunya
adalah:

1.Imam Ahmad, Al-Qanabiy,
2.Sulaiman
bin Harb,
3.Abu Amr adh-Dhariri,
4.Abu Walid
ath-Thayalisi,
5.Abu Zakariya Yahya bin Ma’in,
6.Abu Khaitsamah,
7.Zuhair bin Harb,
8.ad-
Darimi,
9.Abu Ustman Sa’id bin Manshur,
10.Ibnu Abi Syaibah dan ulama lainnya.

C. Murid

Demikian pula murid-murid beliau cukup
banyak antara lain, yaitu:
1. Imam Turmudzi
2. Imam Nasa’i
3. Abu Ubaid Al Ajury
4. Abu Thoyib Ahmad bin Ibrohim Al
Baghdady (Perawi sunan Abi Daud dari
beliau).
5. Abu `Amr Ahmad bin Ali Al Bashry (perawi
kitab sunan dari beliau).
6. Abu Bakr Ahmad bin Muhammad Al Khollal
Al Faqih.
7. Isma`il bin Muhammad Ash Shofar.
8. Abu Bakr bin Abi Daud (anak beliau).
9. Zakariya bin Yahya As Saajy.
10.Abu Bakr Ibnu Abi Dunya.
11.Ahmad bin Sulaiman An Najjar (perawi
kitab Nasikh wal Mansukh dari beliau).
12.Ali bin Hasan bin Al `Abd Al Anshory
(perawi sunsn dari beliau).
13.Muhammad bin Bakr bin Daasah At
Tammaar (perawi sunan dari beliau).
14.Abu `Ali Muhammad bin Ahmad Al Lu`lu`y
(perawi sunan dari beliau).
15.Muhammad bin Ahmad bin Ya`qub Al
Matutsy Al Bashry (perawi kitab Al Qadar
dari beliau).

D.Sifat dan kepribadiannya

Abu Dawud termasuk ulama yg
mencapai derajat tinggi dlm beribadah,
kesucian diri, kesalihan dan wara’ yg
patut diteladani.
Sebagian ulama berkata: “Perilaku Abu
Dawud, sifat dan kepribadiannya
menyerupai Imam Ahmad bin Hanbal.

Imam
Ahmad bin Hanbal menyerupai Waki’,
Waki seperti Sufyan as-tSauri,
Sufyan seperti Mansur, Mansur menyerupai
Ibrahim an-Nakha’i, Ibrahim menyerupai
Alqamah.”Alqamah seperti Ibnu Mas’ud,
dan Ibnu Mas’ud seperti Nabi Muhammad
Saw.

Sifat dan
kepribadian seperti ini menunjukkan
kesempurnaan beragama, prilaku dan
akhlak Abu Dawud.

Abu Dawud mempunyai
falsafah tersendiri dlm berpakaian. Salah
satu lengan bajunya lebar dan satunya lagi
sempit. Bila ada yg bertanya, dia
menjawab: “Lengan yang lebar ini untu membawa kitab, sedang yang satunya
tdk diperlukan. Kalau dia lebar, berarti
pemborosan.”

E.Ulama memuji Abu Dawud

Abu Dawud adlh seorang tokoh ahli
hadits yg menghafal dan memahami
hadits beserta illatnya. Dia mendapatkan
kehormatan dari para ulama, terutama dari
gurunya, Imam Ahmad bin Hanbal.

Al-Hafiz Musa bin Harun berkata: “Abu
Dawud diciptakan di dunia untuk Hadits,
dan di akhirat untuk surga. Aku tdk
pernah melihat orang yang lebih utama
dari dia.”

Ketika Abu Dawud menyusun kitab sunan,
Ibrahim al-Harbi, seorang Ulama hadits,
berkata: “Hadits telah dilunakkan bagi Abu
Dawud, sebagai-mana besi dilunakkan
untuk Nabi Dawud.”

Ungkapan itu adalah
perumpama-an bagi keistimewaan seorang
ahli hadits. Dia telah mempermudah yang
rumit dan mendekatkan yang jauh, serta
memudahkan yang sukar.

Seorang Ulama hadits dan fiqih terkemuka
yang bermazhab Hanbali, Abu Bakar al-
Khallal, berkata: “Abu Dawud Sulaiman bin
al-Asy’as as-Sijistani adalah Imam
terkemuka pada jamannya, penggali
beberapa bidang ilmu sekaligus
mengetahui tempatnya, dan tak seorang
pun di masanya dapat me-nandinginya.

Abu Bakar al-Asbihani dan Abu Bakar bin
Sadaqah selalu menyanjung Abu Dawud,
dan mereka memujinya yang belum pernah
diberikan kepada siapa pun di
masanya.Mazhab yang diikuti Abu Dawud
syaikh Abu Ishaq as-Syairazi dalam
Tabaqatul Fuqaha menggolong-kan Abu
Dawud sebagai murid Imam Ahmad bin
Hanbal.

Begitu pula Qadi Abdul Husain
Muhammad bin Qadi Abu Ya’la (wafat
tahun 526 H.) yang termaktub dalam kitab
Tabaqatul Hanabilah. Penilaian ini
disebabkan, Imam Ahmad adalah guru Abu
Dawud yang istimewa. Ada yang
mengatakan bahwa dia bermazhab
Syafi’i.

F.Memuliakan ilmu dan ulama

Sikap Abu Dawud yang memuliakan ilmu
dan ulama ini dapat diketahui dari kisah
yang diceritakan oleh Imam al-Khattabi
dari Abu Bakar bin Jabir, pembantu Abu
Dawud.

Dia berkata: “Aku bersama Abu
Dawud tinggal di Bagdad. Di suatu saat,
ketika kami usai melakukan shalat magrib,
tiba-tiba pintu rumah diketuk orang, lalu
kubuka pintu dan seorang pelayan
melaporkan bahwa Amir Abu Ahmad al-
Muwaffaq minta ijin untuk masuk.

Kemudian aku memberitahu Abu Dawud
dan ia pun mengijinkan, lalu Amir duduk.
Kemudian Abu Dawud bertanya: “Apa yang
mendorong Amir ke sini?” Amir pun
menjawab “Ada tiga kepentingan”.
“Kepentingan apa?” Tanya Abu Dawud.
Amir mengatakan: “Sebaiknya anda tinggal
di Basrah, supaya para pelajar dari seluruh
dunia belajar kepadamu. Dengan demikian
kota Basrah akan makmur lagi. Karena
Basrah telah hancur dan ditinggalkan orang
akibat tragedi Zenji.”
Abu Dawud berkata: “itu yang pertama,
lalu apa yang kedua?” Amir menjawab:
“Hendaknya anda mau mengajarkan sunan
kepada anak-anakku.” “Yang ketiga?” tanya
Abu Dawud. “Hendaklah anda membuat
majlis tersendiri untuk mengajarkan hadits
kepada keluarga khalifah, sebab mereka
enggan duduk bersama orang umum.” Abu
Dawud menjawab: “Permintaan ketiga
tidak bisa kukabulkan. Sebab derajat
manusia itu, baik pejabat terhormat
maupun rakyat jelata, dalam menuntut
ilmu dipandang sama.”Ibnu Jabir
menjelaskan: “Sejak itu putra-putra
khalifah menghadiri majlis taklim, duduk
bersama orang umum, dengan diberi tirai
pemisah”.

Begitulah seharusnya, ulama tidak
mendatangi raja atau penguasa, tetapi
merekalah yang harus mengunjungi ulama.

Itulah kesamaan derajat dalam mencari
ilmu pengetahuan.

G.Wafatnya

Setelah hidup penuh dengan kegiatan ilmu,
mengumpulkan dan menyebarluaskan
hadits, Abu Dawud wafat di Basrah, tempat
tinggal atas per-mintaan Amir
sebagaimana yang telah diceritakan. la
wafat tanggal 16 Syawal 275 H.

H.Putra Imam Abu Dawud

Imam Abu Dawud meninggalkan seorang
putra bernama Abu Bakar Abdullah bin Abu
Dawud. Dia adalah seorang Imam hadits
putra seorang imam hadits pula. Dilahirkan
tahun 230 H. dan wafat tahun 316 H.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 24, 2011 in Sejarah Ulama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: