RSS

Imam Tirmidzi

28 Okt

Abu Isa Muhammad bin Isa bin
Surah At Turmudzi (lebih dikenal
sebagai Imam Turmudzi/ At
Turmudzi/ At Tirmidzi) adalah
seorang ahli hadits. Ia pernah belajar
hadits dari Imam Bukhari. Ia menyusun kitab Sunan At Turmudzi dan Al Ilal.

Ia mengatakan bahwa dia sudah
pernah menunjukkan kitab Sunannya
kepada ulama ulama Hijaz, Irak dan
Khurasan dan mereka semuanya
setuju dengan isi kitab itu. Karyanya
yang mashyur yaitu Kitab Al-Jami’
(Jami’ At-Tirmizi). Ia juga tergolonga
salah satu “Kutubus Sittah” (Enam
Kitab Pokok Bidang Hadits) dan
ensiklopedia hadits terkenal.
Al Hakim mengatakan “Saya pernah
mendengar Umar bin Alak
mengomentari pribadi At Turmudzi
sebagai berikut; kematian Imam
Bukhari tidak meninggalkan muridnya
yang lebih pandai di Khurasan selain
daripada Abu ‘Isa At Turmudzi dalam
hal luas ilmunya dan hafalannya.”

Biografi

Nama dan kelahirannya
Imam al-Hafizh Abu Isa Muhammad
bin Isa bin Saurah bin Musa bin ad-
Dahhak as-Sulami at-Tirmizi , salah
seorang ahli hadits kenamaan, dan
pengarang berbagai kitab yang
masyhur, lahir di kota Tirmiz.
Perkembangan dan lawatannya
Kakek Abu ‘Isa at-Tirmizi
berkebangsaan Mirwaz, kemudian
pindah ke Tirmiz dan menetap di sana.

Di kota inilah cucunya bernama Abu
‘Isa dilahirkan. Semenjak kecilnya Abu
‘Isa sudah gemar mempelajari ilmu dan mencari hadits. Untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai negeri: Hijaz, Irak, Khurasan dan lain-lain.

Dalam perlawatannya itu ia banyak
mengunjungi ulama-ulama besar dan
guru-guru hadits untuk mendengar
hadits yang kem dihafal dan dicatatnya dengan baik di perjalanan atau ketika tiba di suatu tempat. Ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan tanpa menggunakannya dengan seorang guru di perjalanan menuju Makkah. Kisah ini akan diuraikan lebih lanjut.

Wafat

Setelah menjalani perjalanan panjang
untuk belajar, mencatat, berdiskusi
dan tukar pikiran serta mengarang, ia
pada akhir kehidupannya mendapat
musibah kebutaan, dan beberapa
tahun lamanya ia hidup sebagai tuna
netra; dalam keadaan seperti inilah
akhirnya at-Tirmizi meninggal dunia. Ia wafat di Tirmiz pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H ( 8 Oktober 892) dalam usia 70 tahun.

Keilmuan

Guru-gurunya

Ia belajar dan meriwayatkan hadits dari ulama-ulama kenamaan. Di antaranya adalah Imam Bukhari, kepadanya ia mempelajari hadits dan fiqh. Juga ia belajar kepada Imam Muslim dan Abu Dawud. Bahkan Tirmizi belajar pula hadits dari sebagian guru mereka.

Guru lainnya ialah Qutaibah bin Saudi
Arabia’id, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan. Said bin ‘Abdur Rahman,
Muhammad bin Basysyar, ‘Ali bin
Hajar, Ahmad bin Muni’, Muhammad
bin al-Musanna dan lain-lain.
Murid-muridnya Hadits-hadits dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama. Di antaranya ialah Makhul ibnul- Fadl, Muhammad binMahmud ‘Anbar, Hammad bin Syakir, ‘Ai-bd bin Muhammad an-Nasfiyyun, al-Haisam bin Kulaib asy-Syasyi, Ahmad bin Yusuf an-Nasafi, Abul-‘Abbas Muhammad bin Mahbud al-Mahbubi, yang meriwayatkan kitab Al-Jami’ daripadanya, dan lain-lain.

Kekuatan Hafalannya

Abu ‘Isa aat-Tirmizi diakui oleh para
ulama keahliannya dalam hadits,
kesalehan dan ketakwaannya. Ia
terkenal pula sebagai seorang yang
dapat dipercaya, amanah dan sangat
teliti. Salah satu bukti kekuatan dan
cepat hafalannya ialah kisah berikut
yang dikemukakan oleh al-Hafiz Ibnu
Hajar dalam Tahzib at-Tahzib-nya, dari
Ahmad bin ‘Abdullah bin Abu Dawud,
yang berkata: “Saya mendengar Abu ‘Isa at-Tirmizi berkata: Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Makkah, dan ketika itu saya telah menuslis dua jilid berisi hadits-hadits yang berasal dari seorang guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya bertanya-tanya mengenai dia, mereka menjawab bahwa dialah orang yang kumaksudkan itu. Kemudian saya menemuinya. Saya mengira bahwa “dua jilid kitab” itu ada padaku.

Ternyata yang kubawa bukanlah dua
jilid tersebut, melainkan dua jilid lain
yang mirip dengannya. Ketika saya
telah bertemu dengan dia, saya
memohon kepadanya untuk
mendengar hadits, dan ia mengabulkan permohonan itu.
Kemudian ia membacakan hadits yang dihafalnya. Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat bahwa kertas yang kupegang masih putih bersih tanpa ada tulisan sesuatu apa pun.

Demi melihat kenyataan ini, ia
berkata: ‘Tidakkah engkau malu
kepadaku?’ lalu aku bercerita dan
menjelaskan kepadanya bahwa apa
yang ia bacakan itu telah kuhafal
semuanya. ‘Coba bacakan!’ suruhnya.
Lalu aku pun membacakan seluruhnya secara beruntun.

Ia bertanya lagi: ‘Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?’ ‘Tidak,’ jawabku. Kemudian saya meminta lagi agar dia meriwayatkan hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadits yang tergolong hadits-hadits yang sulit atau garib, lalu berkata: ‘Coba ulangi apa yang kubacakan tadi,’ Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai; dan ia berkomentar: ‘Aku belum pernah melihat orang seperti engkau.”

Pandangan para kritikus hadits
Para ulama besar telah memuji dan
menyanjungnya, dan mengakui akan
kemuliaan dan keilmuannya. Al-Hafiz
Abu Hatim Muhammad ibn Hibban,
kritikus hadits, menggolangkan Tirmizi ke dalam kelompok “Siqat” atau orang- orang yang dapat dipercayai dan kokoh hafalannya, dan berkata: “Tirmizi adalah salah seorang ulama yang mengumpulkan hadits, menyusun kitab, menghafal hadits dan bermuzakarah (berdiskusi) dengan para ulama.” Abu Ya’la al-Khalili dalam kitabnya ‘Ulumul Hadits menerangkan; Muhammad bin ‘Isa at-Tirmizi adalah seorang penghafal dan ahli hadits yang baik yang telah diakui oleh para ulama.

Ia memiliki kitab Sunan dan kitab Al-
Jarh wat-Ta’dil. Hadits-haditsnya
diriwayatkan oleh Abu Mahbub dan
banyak ulama lain. Ia terkenal sebagai
seorang yang dapat dipercaya, seorang ulama dan imam yang menjadi ikutan dan yang berilmu luas. Kitabnya Al- Jami’us Sahih sebagai bukti atas keagungan derajatnya, keluasan hafalannya, banyak bacaannya dan pengetahuannya tentang hadits yang sangat mendalam.

Fiqh Tirmizi dan Ijtihadnya
Imam Tirmizi, di samping dikenal
sebagai ahli dan penghafal hadits yang mengetahui kelemahan-kelemahan dan perawi-perawinya, ia juga dikenal sebagai ahli fiqh yang mewakili wawasan dan pandangan luas. Barang siapa mempelajari kitab Jami’nya ia akan mendapatkan ketinggian ilmu dan kedalaman penguasaannya terhadap berbagai mazhab fikih.

Kajian-kajiannya mengenai persoalan
fiqh mencerminkan dirinya sebagai
ulama yang sangat berpengalaman
dan mengerti betul duduk
permasalahan yang sebenarnya.
Salah satu contoh ialah penjelasannya
terhadap sebuah hadits mengenai
penangguhan membayar piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai berikut:
“Muhammad bin Basysyar bin Mahdi
menceritakan kepada kami Sufyan
menceritakan kepada kami, dari Abi az- Zunad, dari al-A’rai dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, bersabda: ‘Penangguhan membayar utang yang
dilakukan oleh si berutang) yang
mampu adalah suatu kezaliman.
Apabila seseorang di antara kamu
dipindahkan utangnya kepada orang
lain yang mampu membayar,
hendaklah pemindahan utang itu
diterimanya.”

Imam Tirmizi memberikan penjelasan
sebagai berikut:

Sebagian ahli ilmu berkata: ” apabila
seseorang dipindahkan piutangnya
kepada orang lain yang mampu
membayar dan ia menerima
pemindahan itu, maka bebaslah orang
yang memindahkan (muhil) itu, dan
bagi orang yang dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan
menuntut kepada muhil.” Diktum ini
adalah pendapat Syafi’i, Ahmad dan
Ishaq.

Sebagian ahli ilmu yang lain berkata:
“Apabila harta seseorang (muhtal)
menjadi rugi disebabkan kepailitan
muhal ‘alaih, maka baginya dibolehkan menuntut bayar kepada orang pertama (muhil).” Mereka memakai alasan dengan perkataan Usma dan lainnya, yang menegaskan: “Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim.”

Menurut Ishak, maka perkataan “Tidak
ada kerugian atas harta benda seorang Muslim” ini adalah “Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu, namun ternyata orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda orang Muslim (yang
dipindahkan utangnya) itu.”

Itulah salah satu contoh yang
menunjukkan kepada kita, bahwa
betapa cemerlangnya pemikiran fiqh
Tirmizi dalam memahami nas-nas
hadits, serta betapa luas dan orisinal
pandangannya itu.

Karya-karyanya

Imam Tirmizi banyak menulis kitab-
kitab. Di antaranya:
1. Kitab Al-Jami’, terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmidzi
2. Kitab Al-‘Ilal
3. Kitab At-Tarikh
4. Kitab Asy-Syama’il an-Nabawiyyah
5. Kitab Az-Zuhd
6. Kitab Al-Asma’ wal-Kuna

Di antara kitab-kitab tersebut yang
paling besar dan terkenal serta beredar luas adalah Al-Jami’.

Sekilas tentang Al-Jami’

Kitab ini adalah salah satu kitab karya
Imam Tirmizi terbesar dan paling
banyak manfaatnya. Ia tergolonga
salah satu “Kutubus Sittah” (Enam
Kitab Pokok Bidang Hadits) dan
ensiklopedia hadits terkenal. Al-Jami’ ini terkenal dengan nama Jami’ Tirmizi, dinisbatkan kepada penulisnya, yang juga terkenal dengan nama Sunan Tirmizi. Namun nama pertamalah yang popular.

Sebagian ulama tidak berkeberatan
menyandangkan gelar as-Sahih
kepadanya, sehingga mereka
menamakannya dengan Sahih Tirmizi.
Sebenarnya pemberian nama ini tidak
tepat dan terlalu gegabah.

Setelah selesai menyususn kitab ini,
Tirmizi memperlihatkan kitabnya
kepada para ulama dan mereka senang dan menerimanya dengan baik. Ia menerangkan: “Setelah selesai
menyusun kitab ini, aku perlihatkan
kitab tersebut kepada ulama-ulama
Hijaz, Irak dan Khurasan, dan mereka
semuanya meridhainya, seolah-olah di
rumah tersebut ada Nabi yang selalu
berbicara.”

Imam Tirmizi di dalam Al-Jami’-nya
tidak hanya meriwayatkan hadits sahih semata, tetapi juga meriwayatkan hadits-hadits hasan, da’if, garib dan mu’allal dengan menerangkan kelemahannya.

Dalam pada itu, ia tidak meriwayatkan
dalam kitabnya itu, kecuali hadits-
hadits yang diamalkan atau dijadikan
pegangan oleh ahli fiqh. Metode
demikian ini merupakan cara atau
syarat yang longgar. Oleh karenanya,
ia meriwayatkan semua hadits yang
memiliki nilai demikian, baik jalan
periwayatannya itu sahih ataupun tidak sahih. Hanya saja ia selalu memberikan penjelasan yang sesuai dengan keadaan setiap hadits.

Diriwayatkan, bahwa ia pernah berkata: “Semua hadits yang terdapat dalam kitab ini adalah dapat diamalkan.” Oleh karena itu, sebagian besar ahli ilmu menggunakannya (sebagai pegangan),

kecuali dua buah hadits, yaitu:

1. “Sesungguhnya Rasulullah SAW
menjamak salat Zuhur dengan
Asar, dan Maghrib dengan Isya,
tanpa adanya sebab “takut” dan
“dalam perjalanan.”

2. “Jika ia peminum khamar, minum
lagi pada yang keempat kalinya,
maka bunuhlah dia.”

Hadits ini adalah mansukh dan ijma
ulama menunjukan demikian.
Sedangkan mengenai salat jamak
dalam hadits di atas, para ulama
berbeda pendapat atau tidak sepakat
untuk meninggalkannya. Sebagian
besar ulama berpendapat boleh (jawaz) hukumnya melakukan salat jamak di rumah selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibnu Sirin dan Asyab serta sebagian besar ahli fiqh dan ahli hadits juga Ibnu Munzir.

Hadits-hadits dha’if dan munkar yang
terdapat dalam kitab ini, pada
umumnya hanya menyangkut fada’il
al-a’mal (anjuran melakukan
perbuatan-perbuatan kebajikan).

Hal itu dapat dimengerti karena
persyaratan-persyaratan bagi
(meriwayatkan dan mengamalkan)
hadits semacam ini lebih longgar
dibandingkan dengan persyaratan bagi hadits-hadits tentang halal dan haram.

Sumber :id.m.wikipedia.org/wiki/Imam_Tirmidzi

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 28, 2011 in Sejarah Ulama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: